Rabu, 21 Oktober 2015

Air Mengalir ke Segala Arah


Sedikit ucap yang keluar dan langkah yang panjang dan tegas, begitu ucapku ketika berangkat ke tempat pengabdianku. Ngadas, sebuah desan yang harmonis dengan keberagaman yang dianut masing-masing orang yang hidup di desa itu. Ini seperti sebuah keinginan yang tidak akan tercapai ketika tidak segera melangkahkan diri menuju ke tempat-tepat baru yang menyuguhkan sejuta pengalaman yang         siap dipanen oleh setiap orang. Tidak banyak orang yang bisa mencicipi pengalaan baru di desa ini, meskipun mereka sering berunjung ke sini, namun hanya sekadar memalingkan muka kemudian meluruskan kembali pandangannya ke arah tujuan berikutnya. Ini mereka yang hanya melewati desa ini tanpa mampir sejenak untuk merasakan atmosfir kehidupan di desa ini karena tujuan mereka semeru, sebuah destinasi wisata yang dimimpikan banyak orang.
Jejakku ketika pertama melangkahkan kaki menuju kelas yang akan saya ajar. Tidak terdapat banyangan sama sekali bagaimana kelas yang ada di sana. Ternyata WOW. Tidak terduga. Ternyata sebuah sekolah yang dekat tempat pariwisata yang terkenal senatero  negeri berkat rilisnya film 5 cm masih mengkhawatirkan kondisinya. Kelas yang tidak berstandar nasional. Sebuah kelas yang mau tidak mau harus ditempati oleh jenjang kelas yang berbeda. Bisa dibayangkan betapa sulitnya mengajar mata pelajaran tertentu ketika suatu kelas diisi oleh jenjang yang berbeda meskipun telah disekat.
Sebuah pembelajaran yang efektif akan timbul ketika lingkungan belajar yang meliputi kondisi ruang, media pembelajaran, dan atmosfir di kelas bisa seimbang dan kondusif. Melihat kondisi seperti itu, saya secara tidak langsung merasakan betapa lengkapnya semua kondisi pembelajaran yang selama ini saya jalani. Mulai dari kondisi kelas yang sangat amat bersih, koleksi buku perpustakaan lengkap, dan peralatan elektronik berupa laptop sudah tersedia sehingga apa-apa yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar bisa terpenuhi dengan maksimal, cepat, dan efisien jika dibandingkan dengan mereka-mereka ini yang kondisinya serba terbatas.
Melihat fenomena semacam itu, jadi teringat akan teman-teman seperjuangan saya yang ketika masih SD, SMP, dan SMA mereka hanya meremehkan perlengkapan yang telah dimiliki sekolah. Mereka hanya duduk manis di deretan depan kelas ketika guru belum hadir di kelas atau tidak hadir. Saya merasa beruntung ketika masih belajar di jenjang SD, SMP, dan SMA selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan belajar semaksimal mungkin. Memang dulu tidak berpikir apa guna suatu ilmu yang saya pelajari, akan tetapi saya berusaha mengingat pesan orang tua dan orang-orang yang sudah pengalaman bahwa suatu ilmu memang tidak bermanfaat secara langsung dalam sekejap. Ilmu itu akan bermanfaat seccara bertahap dan berkelanjutan sampai selama kita masih menggunakan dan memanfaatkan ilmu yang kita miliki dalam kehidupan sehari-hari.

Kembali ke ranah pengabdian yang pernah saya lakukan di Ngadas, betapa guru benar-benar diuji kemampuan mereka ketika keterbatasan media pembelajaran dan perangkat-perangkat lain pendukung dalam proses KBM belum bisa diperbaiki atau dilengkapi. Ini menjadi daya tarik tersendiri untuk setiap pengajar atau pengembang media pembelajaran dalam mengembangkan metode ataupun media pembemlajaran yang sesuai dengan keterbatasan yang ada.