Rabu, 12 Oktober 2016

Sabtu, 13 Agustus 2016

Mulailah dari Juz 30 Dulu



Reportase : Mahmud Mushoffa
Mahasiswa Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang/peserta KKN/PPL di Thailand
MENGHAFAL Al Quran merupakan suatu tanggungjawab yang sangat besar. Bagi yang menghafal Al Quran, paham isinya, lalu mengamalkannya dalam kehidupan, maka jaminannya adalah surga.
Seperti disampaikan Rasulullah SAW melalui Anas RA yaitu ketika Anas bertanya kepadanya tentang siapa yang merupakan bagian keluarga Allah SWT setelah Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki keluarga dari manusia.
Rasulullah menjawab, mereka adalah ahli Quran, orang yang membaca, menghafal, dan mengamalkannya. Ia adalah keluarga Allah SWT dan orang-orang yang teristimewa bagiNya.
Konsep inilah yang diperhatikan pengurus Pondok Arunsat Vitaya School Pattani, Thailand dan diterapkan dalam program menghafal Al Quran.
Pondok pesantren ini mewajibkan semua santri tanpa pandang umur untuk memulai menghafal Al Quran dari Juz 30. Sekolah juga mengadakan kelas Tahfidzul Quran yang fokus untuk menghafal Al Quran.
Kegiatan dalam kelas banyak dihabiskan untuk menghafal dan beberapa mata pelajaran pendukung seperti tafsir dan sejenisnya. Hanya beberapa jam saja untuk kebutuhan tambahan dan mata pelajaran wajib selevelnya, yaitu bahasa Inggris dan Melayu, komputer, sain, pendidikan kewarganegaraan Kerajaan Thai.
Untuk hafalan Al Quran ini dibimbing Ustadz Adil, yang telah menamatkan perkuliahan bahasa Arab di Jordan dan tahfidzul Quran di Afrika Selatan. Ustadz Adil berkewajiban memantau progres pembelajaran Al Quran.
Untuk kelas pagi, khususnya kelas tahfidz dibimbing Ustadz Ismail yang telah menamatkan sekolah Tahfidzul Quran di Malaysia dan di Afrika Selatan bersama Ustadz Adil.
Terlepas dari itu semua, serangkaian program yang ditawarkan Islamic Boarding School ini merupakan langkah kecil untuk menanamkan pendidikan karakter yang baik untuk anak-anak ke depannya.

http://surabaya.tribunnews.com/2016/08/07/mulailah-dari-juz-30-dulu 

Rabu, 03 Agustus 2016

Pribadi Syar’i Pada Para Lelaki

Lutut adalah bagian aurat lelaki muslim Thailand dan karenanya harus ditutup 

Panas udara tidak menjadi alasan untuk menutup aurat, baik lelaki pun perempuan

Reportase : Mahmud Mushoffa
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
SABTU (4/6/2016) adalah hari di mana para santri Arunsat Vitaya School, Kampung Payo, Wilayah Pattani, Thailand Selatan berlatih sepak bola di lapangan dekat kampus Princes of Songkla University di daerah Pattani Kota.
Perjalanan dari pondok Arunsat Vitaya School ke tempat tujuan sekitar 2,15 jam. Sungguh perjalanan yang cukup jauh. Kegiatan ini secara rutin diadakan satu bulan sekali.
Ada hal yang unik dan perlu dicontoh pada sekolah berbasis agama Islam di Indonesia. Pada sekolah ini, peraturan tentang menutup aurat benar-benar dilaksanakan dengan baik. Hal ini terlihat pada saat para santri putra pondok ini memakai semacam leging yang biasa digunakan perempuan Indonesia. Kain ini berfungsi untuk menutup aurat laki-laki yang pada kebiasaan anak Indonesia tidak terlalu diperhatikan, padahal juga termasuk aurat yang harus ditutupi.
Memang di Indonesia kebanyakan perempuan yang diperhatikan atau dalam istilah jawa diwanti-wanti untuk selalu menutup aurat, sementara para lelaki diabaikan begitu saja. Tidak ada semburat muka pucat pada wajah mereka. Mereka tersenyum gembira dengan dirinya sendiri.
Seperti diungkap kepala sekolah atau mudhir versi Melayu, Ustadz Salahudin, bahwa anak lelaki wajib menutup aurat sesuai dengan ajaran agama Islam. Proses seperti inilah yang dinamakan pendidikan karakter anak melalui pendisiplinan dalam kegiatan rutinitas.
Memang pendidikan karakter tidak cukup disuarakan semata, namun harus diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari. Melihat hal ini, selayaknya kita harus belajar bahwa ketika sesuatu itu ingin diterapkan, tidak hanya cukup ceramah saja agar keinginan tersampaikan, namun juga penerapan pada peraturan khususnya bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.
Penanaman karakter seperti ini layak dijadikan teladan untuk menanamkan berbagai karakter yang baik untuk peserta didik. Menengok keinginan Presiden kita tercinta, yaitu revolusi mental, selayaknya pengaktualisasian konsep itu harus diperjelas dalam bentuk konkret karena konsep seperti itu bagi orang awam masih kabur.
 “Agar tujuan menjadi jelas dan tidak amblas, butuh adanya lelaku yang pantas dalam kehidupan nan lepas”

Umur Anting Pattani



Sumber gambar: http://cdn-2.tstatic.net/surabaya/foto/bank/images/anting_20160726_175727.jpg

Reportase : Mahmud Mushoffa
Mahasiswa Universitas Negeri Malang/tengah mengikuti program KKN-PKL di Thailand
SAYA menemukan sosok bocah perempuan Thailand yang tidak mengenakan anting di telinganya. Dalam bahasa Melayu Pattani, anting disebut sube. Sang bapak, Ustadz Khadafi, saat saya menanyakan hal tersebut, Jumat (15/7/2016), menjelaskan bila anak-anak di Patani baru memakai anting sekitar umur empat atau lima tahun.
Informasi lain diberikan oleh Mbak Nana, mahasiswa Walailak University yang pernah belajar di Universitas Negeri Malang (UM) dalam program In Country dan kebetulan warga Pattani, menyebutkan, dahulu, anak perempuan baru memakai anting ketika sudah berumur sekitar tujuh tahun, namun sekarang usis dua atau tiga tahun mereka sudah memakai sube.
Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, banyak anak-anak perempuan sudah memakai anting dan telinga mereka telah dilubangi atau ditindik semenjak bayi. Hal ini dilakukan agar tidak merasa sakit ketika besar. Namun, melubangi daun telinga setelah bayi lahir ternyata tidak berlaku di Thailand. Mungkin karena merasa kasihan kepada si bayi.
Terlepas dari itu, ternyata tujuan memakai anting untuk anak perempuan dalam tradisi Patani yaitu sebagai rasa syukur atas kelahiranya.
Dalam hal ini tersirat bahwa sosok bayi perempuan adalah sosok yang dirindukan oleh keluarga, sosok yang sangat dihormati. Memang benar jika hal itu terjadi karena mayoritas penduduk di Pattani ini beragama Islam.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah, “ya Rasulallah, kepada siapakah pertama kali saya harus berbakti?”
Jawabnya sama diberikan sampai pertanyaan ketiga dengan pertanyaan yang sama yaitu, ibumu.
Kemudian ia bertanya lagi, jawab Rasulullah baru adalah 'ayahmu'.
Inilah keistimewaan seorang perempuan di mata Islam. Hal ini benar-benar mengakar dalam tradisi Islam di Patani dan sekitarnya yang menjunjung tinggi status sosial seorang perempuan.
Bagi orang yang mampu, ia akan memakaikan anaknya anting yang terbuat dari emas. Bagi anak perempuan yang terlahir dari orangtua yang kurang mampu akan dipakaikan anting yang tidak terbuat dari emas.
Hal ini bukan menjadi masalah karena anting sebagai simbol bahwa  penghormataan dan penghargaan atas lahirnya bayi perempuan di tengah keluarga.


sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2016/07/26/umur-anting-pattani

Sabtu, 25 Juni 2016

Sepertiga Malam di Thailand, Ribuan Siswa Mengungsi Tidur ke Musala




Reportase : Mahmud Mushoffa
Mahasiswa Universitas Negeri Malang/peserta PPL/KKN di Thailand
KETIKA ada pernyataan ‘tidur adalah ibadah’ bukan berarti puasa Ramadan hanya dimanfaatkan untuk tidur semata. Tidur di sini diartikan tidur sekadarnya untuk mendapatkan energi lebih guna bisa beribadah pada malam hari dan sepertiga malam.
Nah, tradisi seperti inilah yang ditanamkan di Pondok Arunsat Vitaya School, Kampung Payo, Distrik Sai Buri, Thailand Selatan. Kegiatan ini memang diterapkan untuk melatih santri teratur beribadah di bulan Ramadan dan mendapatkan keberkahan di bulan Suci ini, ungkap Ustadz Husni, pengasuh pondok pesantren sekolah ini saat ditemui Kamis (16/6/2016) silam.
Selama bulan Ramadhan, setiap santri di sana diwajibkan untuk mengkhatamkan satu juz setiap hari sehingga ketika Idul Fitri mereka sudah khatam 30 juz, lebih-lebih bisa khatam dua kali atau lebih.
Selama bulan Ramadan, semua santri dilarang untuk tidur di asrama, akan tetapi wajib tidur di masjid. Hal ini bertujuan agar semua santri mudah dibangunkan untuk salat Tahajud di sepertiga malam selama bulan Ramadan.
Selain salat Tahajud bersama di sepertiga malam, setiap setelah salat subuh dan dhuhur semua satri wajib membaca Al Quran guna mengkhatamkan satu juz setiap hari. Tidak hanya itu, untuk menghindari rasa capek yang berlebih pada diri santri, pihak pondok tak hanya mewajibkan beraktivitas tetapi juga mewajibkan tidur setelah subuh selesai tadarus sekitar satu jam dan setelah salat dhuhur selesai tadarus sekitar dua jam.
Bersama sepertiga malam, itulah sebutan saya untuk mendekatkan diri dengan sesama manusia dan kepada Tuhan yang Maha Esa. Kebersamaan yang mengakibatkan perolehan pahala yang berganda di bulan Suci Ramadan.

sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2016/06/21/sepertiga-malam-di-thailand-ribuan-siswa-di-thailand-ngungsi-tidur-di-musala

Sabtu, 18 Juni 2016

Tentangku



Mahmud Mushoffa , dilahirkan di Kediri , 12 Desember 1993. Ia dilahirkan dari pasangan Dami dan Siti Rofiah. Tempat tinggal asalnya di Jalan Sakura Lingkungan Pulerejo Kelurahan Bawang Kecamatan Pesantren Kota Kediri.
          Ia pernah mengenyam pendidikan di TK Miftahul Ulum selama dua tahun, kemudian dilanjutkan ke SDN Bawang 3. Alhamdulillah, setelah SD ia bisa melanjutkan ke MTsN Kediri II yang merupakan sekolah unggulan di kota kediri dan kemudian melanjutkan studi di MAN Kota Kediri 3. Sekarang ini sedang menempuh kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang.
          Selama mengenyam pendidikan di MTs, ia pernah mengemban amanat dari teman-teman dan guru-guru untuk memimpin organisasi pramuka MTsN Kediri II periode 2008/2009. Alhamdulillah, ketika menggeluti dunia kepramukaan di tingkat penggalang, ia pernah menyabet gelar pramuka garuda dan bintang tahunan pramuka di kota kediri. Kemudian, ketika menempuh studi di MAN Kota Kediri 3, ia kembali diberi kepercayaan dari teman-teman untuk mempimpin organisasi Kelompok Ilmiah Remaja An-Nahl MAN Kota Kediri 3 periode 2011/2012.
          Pada saat kuliah, tepatnya semester 2, ia pernah bergabung dengan proyek dosen untuk menyelesaikan video dokumenter Sekolah Bersih dan Sehat yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang atas perintah dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar. Beberapa karyanya telah termuat di media massa. Aktivitas sekarang yang masih ia jalani adalah bergabung dengan Ikatan Alumni MAN 3 Kediri di Malang, Forum Lingkar Pena, Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang, Pengajar di Lembaga Bimbingan Belajar, dan Pembina Ekskull Jurnalistik SMP Brawijaya Smart School (BSS).

Alamat Download Template

berikut beberapa alamat untuk mendapatkan template blog keren, semoga bermanfaat

https://gooyaabitemplates.com
http://www.free-css.com/free-css-templates
http://www.themexpose.com/2015/12/2016-responsive-blogger-template.html
http://designscrazed.org/

Sabtu, 04 Juni 2016

Kaya Boleh tetapi Sederhana Itu Harus


MENGULANG kisah kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW, banyak di antara sahabat yang kaya raya namun kehidupannya sangatlah sederhana. Nah, hal serupa saya saksikan ketika berada di  Thailand Selatan ini dalam rangka PPL/KKN 2016.
Selasa (31/5/2016) ketika berkunjung ke rumah Ustadz Abdul Qadir di Pattani, Thailand selatan, kawasan yang banyak dihuni kaum muslin Thailand. Begitu sampai di rumahnya saya dibuat tertegun melihat rumah yang jauh dari mewah, kendati kekayaan ia miliki, ilmu juga harta. Lihat saja mobil mewah yang dimilikinya terparkir di depan rumahnya.
Hal serupa juga terlihat pada penduduk Pattani lainnya. Hampir semua warga mempunyai kendaraan roda empat. Kebanyakan mobil yang mereka miliki adalah mobil sekelas Pajero Sport.
Sontak saya membandingkan dengan tempat saya tinggal sedari kecil hingga kini di Indonesia. Banyak orang yang membangun rumah mewah hanya untuk kepuasan batin semata. Mungkin agar dianggap sebagai orang yang berpunya kekayaan lebih. Padahal tidak.
Sebaliknya di Pattani ini, tidak banyak orang punya rumah mewah, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada.
Di sini kesederhanaan dan kebermanfaat dari apa yang ada di dunia benar-benar diperhitungkan jika dilihat dari kenyataan di lapangan. Meski mereka mempunyai mobil mewah, tetapi rumahnya sangat sederhana.
Rumah tanpa emosi. Itu istilah saya, karena rumah yang ada dibangun tanpa ada unsur keindahan yang berlebih tetapi sekadar kebermanfaatan rumah itu sendiri.



Sumber:
http://surabaya.tribunnews.com/2016/06/03/kaya-boleh-tetapi-sederhana-itu-harus
http://jsi.sastra.um.ac.id/catatanku-di-thailand-2/

Jumat, 04 Maret 2016

#VTIC5 Mahmud Mushoffa Universitas Negeri Malang