Sedikit ucap yang keluar dan langkah yang
panjang dan tegas, begitu ucapku ketika berangkat ke tempat pengabdianku.
Ngadas, sebuah desan yang harmonis dengan keberagaman yang dianut masing-masing
orang yang hidup di desa itu. Ini seperti sebuah keinginan yang tidak akan
tercapai ketika tidak segera melangkahkan diri menuju ke tempat-tepat baru yang
menyuguhkan sejuta pengalaman yang siap
dipanen oleh setiap orang. Tidak banyak orang yang bisa mencicipi pengalaan
baru di desa ini, meskipun mereka sering berunjung ke sini, namun hanya sekadar
memalingkan muka kemudian meluruskan kembali pandangannya ke arah tujuan
berikutnya. Ini mereka yang hanya melewati desa ini tanpa mampir sejenak untuk
merasakan atmosfir kehidupan di desa ini karena tujuan mereka semeru, sebuah
destinasi wisata yang dimimpikan banyak orang.
Jejakku ketika
pertama melangkahkan kaki menuju kelas yang akan saya ajar. Tidak terdapat
banyangan sama sekali bagaimana kelas yang ada di sana. Ternyata WOW. Tidak terduga. Ternyata sebuah
sekolah yang dekat tempat pariwisata yang terkenal senatero negeri berkat rilisnya film 5 cm masih
mengkhawatirkan kondisinya. Kelas yang tidak berstandar nasional. Sebuah kelas
yang mau tidak mau harus ditempati oleh jenjang kelas yang berbeda. Bisa
dibayangkan betapa sulitnya mengajar mata pelajaran tertentu ketika suatu kelas
diisi oleh jenjang yang berbeda meskipun telah disekat.
Sebuah
pembelajaran yang efektif akan timbul ketika lingkungan belajar yang meliputi
kondisi ruang, media pembelajaran, dan atmosfir di kelas bisa seimbang dan
kondusif. Melihat kondisi seperti itu, saya secara tidak langsung merasakan
betapa lengkapnya semua kondisi pembelajaran yang selama ini saya jalani. Mulai
dari kondisi kelas yang sangat amat bersih, koleksi buku perpustakaan lengkap,
dan peralatan elektronik berupa laptop sudah tersedia sehingga apa-apa yang
dibutuhkan dalam kegiatan belajar bisa terpenuhi dengan maksimal, cepat, dan
efisien jika dibandingkan dengan mereka-mereka ini yang kondisinya serba
terbatas.
Melihat
fenomena semacam itu, jadi teringat akan teman-teman seperjuangan saya yang
ketika masih SD, SMP, dan SMA mereka hanya meremehkan perlengkapan yang telah
dimiliki sekolah. Mereka hanya duduk manis di deretan depan kelas ketika guru
belum hadir di kelas atau tidak hadir. Saya merasa beruntung ketika masih
belajar di jenjang SD, SMP, dan SMA selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin
dan belajar semaksimal mungkin. Memang dulu tidak berpikir apa guna suatu ilmu
yang saya pelajari, akan tetapi saya berusaha mengingat pesan orang tua dan
orang-orang yang sudah pengalaman bahwa suatu ilmu memang tidak bermanfaat
secara langsung dalam sekejap. Ilmu itu akan bermanfaat seccara bertahap dan
berkelanjutan sampai selama kita masih menggunakan dan memanfaatkan ilmu yang
kita miliki dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali ke
ranah pengabdian yang pernah saya lakukan di Ngadas, betapa guru benar-benar
diuji kemampuan mereka ketika keterbatasan media pembelajaran dan
perangkat-perangkat lain pendukung dalam proses KBM belum bisa diperbaiki atau
dilengkapi. Ini menjadi daya tarik tersendiri untuk setiap pengajar atau
pengembang media pembelajaran dalam mengembangkan metode ataupun media pembemlajaran
yang sesuai dengan keterbatasan yang ada.