Rabu, 17 Desember 2014

Begini Membangun (Rumah) Novel

Menulis novel itu dapat diibaratkan seperti membangun gedung atau rumah yang berkualitas. Kita bisa menulis novel tanpa sebuah konstruksi yang terencana, tetapi hasilnya juga seperti membangun rumah tanpa perencanaan khusus dan kualitasnya pun biasa-biasa saja. Namun, ketika dirrencanakan dengan membangun konstruksi novel yang tertata rapi, kemungkinan besar novel itu akan sebagus rumah dengan desain yang mendetail. Lihat saja novel-novel best seller yang berada di pasaran. Tak lain novel itu diciptakan dengan konstruksi sangat baik. Seperti itulah yang disampaikan pemateri dalam acara kampus fiksi di Perpustakaan Kota Malang, Minggu (20/4/2014).
Pemateri, Edi Akhiles, ahli dalam kepenulisan fiksi, memaparkan tips membuat novel yang baik. Secara garis besar hal yang perlu dipahami untuk membuat novel adalah, pertama, perlu memerhatikan mengangkat ide yang unik untuk dijadikan novel. Bang Edi mengibaratkan ide yang bagus dan unik dalam membuat novel itu seperti seseorang yang unik di lingkungan di mana ia berada. Semakin aneh orang itu di lingkungannya, semakin dikenal banyak orang orang. Begitu juga dengan gagasan yang diangkat dalam sebuah novel. Semakin unik novel itu, semakin dicari.
Kedua, bisa saja mengangkat tema yang biasa, tetapi ubahlah kebiasaan itu menjadi luar biasa dengan cara menyajikan gagasan yang biasa itu dengan penyajian yang lebih menarik yang mungkin belum digunakan orang lain. Bandingkan sayur yang dijual dipasar tradisional dengan sayur yang dijual pasar modern atau di mal. Tentu sayur yang ada di mal akan terjual mahal dibandingkan di pasar tradisional. Begitu juga dengan gagasan sebuah novel, meskipun gagasannya sederhana, namun jika kesederhanaan itu dipoles dengan metode penulisan yang hebat, maka hebatlah hasilnya.
Terakhir, menciptakan ending yang bagus. Ending yang bagus itu bukan berarti akhir cerita sebuah kehidupan, akan tetapi lebih cenderung pada keharusan penulis mengakhiri sebuah cerita karena mempertimbangkan bobot dan keefektivitas sebuah novel. Jika tidak, cerita itu akan berlanjut terus tiada henti dan orang pun bosan membacanya.
Tak kalah penting diperhatikan adalah kesinambungan cerita yang disajikan. Meski dari segi ide sudah ok, dari segi penyajian sudah bagus, dan dari segi ending sempurna, tetapi kelogisan sebuah cerita kurang bagus akan mempengaruhi keseluruhan novel yang ditulis. Pepatah mengakatakan, terlalu memperhatikan hal yang terbesar dan krusial tanpa mempertimbangan hal-hal kecil yang jadi bagian yang tak terpisahkan akan membuat sesuatu yang seharusnya bagus akan menjadi jelek. Yang terbaik adalah adanya keseimbangan antar komponen yang ada.

Sumber:


Meniupkan Ruh pada Puisi

BANYAK yang beranggapan membaca puisi itu biasa, tapi mendramakan puisi itu luar biasa. Aksi itulah yang dihajat Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (FS UM) dalam lomba teatrikal puisi, Jumat (11/4/2014) di laboratorium drama FS UM.
Berbagai teknik disajikan peserta. Ada yang menyajikan puisi berbalut komedi kritik, amuk rakyat pada pemimpin negeri, dan lainnya. Semisal peserta yang memakai puisi karya Taufik Ismail (Kalian Jadikan Kami Bangsa Pengemis, lalu, Kalian Paksa Kami Masuk Penjajahan). Aksi tersebut dilatari bunyi ketukan ritmis kaleng bekas. Tak hanya itu, yang terpenting dalam teatrikal puisi adalah korelasi dan koherensi setiap gerakan, musik, dan alat bantu yang ada. Kesederhanaan yang bermakna akan lebih berarti daripada kemewahan miskin arti.
Puisi itu sejatinya sederhana. Jika kesederhanaan puisi dijiwai, dirasakan serta diwujudkan dalam bentuk berbeda, maka kesederhanaan itu akan jauh lebih bermakna. Meski hanya sebuah puisi itu akan dapat menggetarkan ruangan yang awalnya hening menjadi tegang dan heboh akibat ulah sebuah puisi.

Belajar dari Tepung Terigu

DARI tepung, kita bisa belajar kearifan hidup. Tepung dijadikan media dalam permainan kelompok dalam acara pendidikan dan latihan lapangan Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang, Minggu (23/03/2014) di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP) Malang.
Memainkan permainan ini dibutuhkan tim terdiri kurang lebih sepuluh orang, tepung satu kilogram, timba untuk menampung terigu yang diberikan secara estafet dari orang paling depan. Orang paling depan mengambil segenggam tepung di depannya kemudian memberikan ke teman di belakangnya tanpa melihatnya. Maksudnya tepung dalam genggamannya diteruskan melalui atas kepala ke teman di belakangnya. Begitu seterusnya sampai tepung ke teman yang paling belakang.
Makna dari permainan ini adalah ketika menuliskan sesuatu, selayaknya pesan tulisan tersebut sampai kepada pembaca sesuai harapan si penulis. Jika pesan berubah begitu sampai ke orang berikutnya, berarti pesan tidak diterima dengan baik. Ibarat segenggam tepung yang diberikan dari orang pertama kepada orang berikutnya hingga orang terakhir. Jika tepung itu berkurang sampai orang terakhir, berarti ada kegagalan dalam proses penyampaian informasi.
Kedua, tepung ibarat tulisan yang harus melalui proses seleksi dan perbaikan. Ketika tepung dari orang pertama sampai ke tangan orang terakhir itu semakin banyak berkurang, berarti tulisan tersebut kurang padat dan butuh perbaikan. Namun ketika tepung dari tangan orang pertama sampai ke tangan orang terakhir hanya berkurang sedikit, bisa diartikan tulisan tersebut sudah padat sehingga tak perlu memangkas hal yang kurang penting.
Permainan ini mengajarkan kepada calon penulis yang akan terjun ke lapangan agar senantiasa membantu satu sama lain untuk mewujudkan tulisan yang berkualitas dan mengajarkan kehati-hatian dalam menuliskan sesuatuyang nantinya akan dibaca orang banyak.
Sumber:
http://surabaya.tribunnews.com/2014/04/10/belajar-dari-tepung-terigu

Mudah Membuat Puisi Emang Gue Pikirin

BERMULA dengan paksaan, lalu menjadi bisa, kemudian terbiasa, dan berakhir dengan hasil yang luar biasa. Begitu kata Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd. saat Diklat Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UMKP) di Universitas Negeri Malang, Minggu (16/3/2014). Pada kesempatan itu, beliau memberikan rumus untuk membuat puisi.
Tidak hanya matematika saja yang mempunyai rumus yang kebanyakan orang mengganggap rumus matematika adalah rumus yang mematikan. Puisi juga mempunyai rumus. Tetapi rumus puisi tidaklah sama dengan rumus matematika. Kalau rumus matematika mengandalkan pola berhitung, maka rumus puisi lebih cenderung berlandaskan imajinasi.
Pertama rumus ala Prof Dr Wahyudi Siswanto adalah emang gue pikirin(EGP). Bisakah EGP menerbangkan seseorang untuk membuat puisi? Wahyudi Siswanto berhasil menghipnotis peserta dengan rumus EGP dalam pembuatan puisi.
Kedua, menguraikan nama untuk dijadikan awal dalam pembuatan puisi. Peserta diminta menuliskan kata-kata berawalan huruf nama masing-masing yang disusun secara vertikal. Dari setiap huruf yang disusun vertikal tersebut dilanjutkan dengan menambahkan sebuah kata yang pas dan kemudian disusun secara horizontal.
Ketiga, mencari kata yang berakhiran sama sebanyak mungkin tanpa menghiraukan dan tanpa berpikir panjang. Bermodal keberanian dan daya ingat kuat akan kata yang berakhiran sama, dituliskan ke dalam lembaran kertas. Setelah selesai, kata tersebut menjadi sebuah akhiran di setiap baris dengan menambahkan kata yang sesuai di depannya.
Terakhir, menjadikan yang biasa menjadi luar bisa. Analoginya seperti ini, jika seseorang ingin menjadi luar biasa, selayaknya ia harus berbeda dengan orang biasanya dan menjadikan dirinya yang luar biasa. Begitulah dengan puisi, puisi itu ibarat seseorang yang ingin luar biasa. Agar puisi tersebut menjadi luar biasa, harus dibentuk dengan uraian kata yang luar biasa. Semisal kata lampu.
Dalam hal ini, lampu digambarkan dengan kata mata-mata langit. Kemudian kata sinar lampu diganti dengan lelehan sinar senja manusia. Masih banyak yang lainnya. Seketika itu, peserta yang awalnya sulit menulis puisi, bisa dengan mahir menulis puisi dengan mantra emang gue pikirin.
Sumber:

Taman Satu Setengah Jam

Mungkin banyak yang beranggapan membuat taman itu mahal, sulit, dan butuh waktu lama. Tapi tidak bagi 19 relawan dari Universitas Negeri Malang untuk SD Bersih dan Sehat di Kepuharjo, Kabupaten Malang ini. Bagi kami, relawan, membuat taman sederhana dengan memanfaatkan bahan dan tanaman di lingkungan sekolah hanya butuh watu satu setengah jam saja. Taman ini dibuat di sepetak lahan di SDN Kepuharjo Kabupaten Malang, Sabtu (8/3/2014) dengan bantuan Pak Yon, ahli di bidang seni taman.
Ada hal menarik yang bisa dipetik dalam membuat taman, yaitu korelasi antara bentuk, estetika, dan fungsi taman. Harus mengetahui kontur tanah sebelum mendesain dan merealisasikan taman. Jangan sampai desainnya bagus tetapi tidak mempertimbangkan kontur tanah yang ada sehingga ketika hujan, akan terjadi genangan air yang membuat tanaman mati. Taman yang bagus adalah taman yang mempunyai fungsi dari taman itu sendiri, selain bentuk estetikanya. Begitu istilah Pak Yon.

Perlu diperhatikan juga luas lahan dan materi yang tersedia. Di SDN Kepuharjo, taman dibuat di area lahan ukuran 7x3 meter dan hanya tersedia batu-batu kecil, pecahan batu bata bangunan dan beberapa bunga pot. Semua dirangkai sedemikian rupa sehingga menghasilkan taman indah. Ajaib dapat membuat taman sederhana dalam waktu singkat.