Menulis novel itu dapat diibaratkan seperti
membangun gedung atau rumah yang berkualitas. Kita bisa menulis novel tanpa sebuah
konstruksi yang terencana, tetapi hasilnya juga seperti membangun rumah tanpa
perencanaan khusus dan kualitasnya pun biasa-biasa saja. Namun, ketika
dirrencanakan dengan membangun konstruksi novel yang tertata rapi, kemungkinan
besar novel itu akan sebagus rumah dengan desain yang mendetail. Lihat saja
novel-novel best seller yang berada di pasaran. Tak lain novel itu diciptakan
dengan konstruksi sangat baik. Seperti itulah yang disampaikan pemateri dalam
acara kampus fiksi di Perpustakaan Kota Malang, Minggu (20/4/2014).
Pemateri, Edi Akhiles, ahli dalam
kepenulisan fiksi, memaparkan tips membuat novel yang baik. Secara garis besar
hal yang perlu dipahami untuk membuat novel adalah, pertama, perlu memerhatikan mengangkat ide yang
unik untuk dijadikan novel. Bang Edi mengibaratkan ide yang bagus dan unik
dalam membuat novel itu seperti seseorang yang unik di lingkungan di mana ia
berada. Semakin aneh orang itu di lingkungannya, semakin dikenal banyak orang
orang. Begitu juga dengan gagasan yang diangkat dalam sebuah novel. Semakin unik
novel itu, semakin dicari.
Kedua, bisa
saja mengangkat tema yang biasa, tetapi ubahlah kebiasaan itu menjadi luar
biasa dengan cara menyajikan gagasan yang biasa itu dengan penyajian yang lebih
menarik yang mungkin belum digunakan orang lain. Bandingkan sayur yang dijual
dipasar tradisional dengan sayur yang dijual pasar modern atau di mal. Tentu
sayur yang ada di mal akan terjual mahal dibandingkan di pasar tradisional.
Begitu juga dengan gagasan sebuah novel, meskipun gagasannya sederhana, namun
jika kesederhanaan itu dipoles dengan metode penulisan yang hebat, maka
hebatlah hasilnya.
Terakhir, menciptakan ending yang bagus. Ending yang bagus itu bukan berarti akhir
cerita sebuah kehidupan, akan tetapi lebih cenderung pada keharusan penulis
mengakhiri sebuah cerita karena mempertimbangkan bobot dan keefektivitas sebuah
novel. Jika tidak, cerita itu akan berlanjut terus tiada henti dan orang pun
bosan membacanya.
Tak kalah penting diperhatikan adalah
kesinambungan cerita yang disajikan. Meski dari segi ide sudah ok, dari segi
penyajian sudah bagus, dan dari segi ending sempurna, tetapi kelogisan sebuah
cerita kurang bagus akan mempengaruhi keseluruhan novel yang ditulis. Pepatah
mengakatakan, terlalu memperhatikan hal yang terbesar dan krusial tanpa
mempertimbangan hal-hal kecil yang jadi bagian yang tak terpisahkan akan
membuat sesuatu yang seharusnya bagus akan menjadi jelek. Yang terbaik adalah
adanya keseimbangan antar komponen yang ada.
Sumber: