Sabtu, 13 Agustus 2016

Mulailah dari Juz 30 Dulu



Reportase : Mahmud Mushoffa
Mahasiswa Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang/peserta KKN/PPL di Thailand
MENGHAFAL Al Quran merupakan suatu tanggungjawab yang sangat besar. Bagi yang menghafal Al Quran, paham isinya, lalu mengamalkannya dalam kehidupan, maka jaminannya adalah surga.
Seperti disampaikan Rasulullah SAW melalui Anas RA yaitu ketika Anas bertanya kepadanya tentang siapa yang merupakan bagian keluarga Allah SWT setelah Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki keluarga dari manusia.
Rasulullah menjawab, mereka adalah ahli Quran, orang yang membaca, menghafal, dan mengamalkannya. Ia adalah keluarga Allah SWT dan orang-orang yang teristimewa bagiNya.
Konsep inilah yang diperhatikan pengurus Pondok Arunsat Vitaya School Pattani, Thailand dan diterapkan dalam program menghafal Al Quran.
Pondok pesantren ini mewajibkan semua santri tanpa pandang umur untuk memulai menghafal Al Quran dari Juz 30. Sekolah juga mengadakan kelas Tahfidzul Quran yang fokus untuk menghafal Al Quran.
Kegiatan dalam kelas banyak dihabiskan untuk menghafal dan beberapa mata pelajaran pendukung seperti tafsir dan sejenisnya. Hanya beberapa jam saja untuk kebutuhan tambahan dan mata pelajaran wajib selevelnya, yaitu bahasa Inggris dan Melayu, komputer, sain, pendidikan kewarganegaraan Kerajaan Thai.
Untuk hafalan Al Quran ini dibimbing Ustadz Adil, yang telah menamatkan perkuliahan bahasa Arab di Jordan dan tahfidzul Quran di Afrika Selatan. Ustadz Adil berkewajiban memantau progres pembelajaran Al Quran.
Untuk kelas pagi, khususnya kelas tahfidz dibimbing Ustadz Ismail yang telah menamatkan sekolah Tahfidzul Quran di Malaysia dan di Afrika Selatan bersama Ustadz Adil.
Terlepas dari itu semua, serangkaian program yang ditawarkan Islamic Boarding School ini merupakan langkah kecil untuk menanamkan pendidikan karakter yang baik untuk anak-anak ke depannya.

http://surabaya.tribunnews.com/2016/08/07/mulailah-dari-juz-30-dulu 

Rabu, 03 Agustus 2016

Pribadi Syar’i Pada Para Lelaki

Lutut adalah bagian aurat lelaki muslim Thailand dan karenanya harus ditutup 

Panas udara tidak menjadi alasan untuk menutup aurat, baik lelaki pun perempuan

Reportase : Mahmud Mushoffa
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
SABTU (4/6/2016) adalah hari di mana para santri Arunsat Vitaya School, Kampung Payo, Wilayah Pattani, Thailand Selatan berlatih sepak bola di lapangan dekat kampus Princes of Songkla University di daerah Pattani Kota.
Perjalanan dari pondok Arunsat Vitaya School ke tempat tujuan sekitar 2,15 jam. Sungguh perjalanan yang cukup jauh. Kegiatan ini secara rutin diadakan satu bulan sekali.
Ada hal yang unik dan perlu dicontoh pada sekolah berbasis agama Islam di Indonesia. Pada sekolah ini, peraturan tentang menutup aurat benar-benar dilaksanakan dengan baik. Hal ini terlihat pada saat para santri putra pondok ini memakai semacam leging yang biasa digunakan perempuan Indonesia. Kain ini berfungsi untuk menutup aurat laki-laki yang pada kebiasaan anak Indonesia tidak terlalu diperhatikan, padahal juga termasuk aurat yang harus ditutupi.
Memang di Indonesia kebanyakan perempuan yang diperhatikan atau dalam istilah jawa diwanti-wanti untuk selalu menutup aurat, sementara para lelaki diabaikan begitu saja. Tidak ada semburat muka pucat pada wajah mereka. Mereka tersenyum gembira dengan dirinya sendiri.
Seperti diungkap kepala sekolah atau mudhir versi Melayu, Ustadz Salahudin, bahwa anak lelaki wajib menutup aurat sesuai dengan ajaran agama Islam. Proses seperti inilah yang dinamakan pendidikan karakter anak melalui pendisiplinan dalam kegiatan rutinitas.
Memang pendidikan karakter tidak cukup disuarakan semata, namun harus diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari. Melihat hal ini, selayaknya kita harus belajar bahwa ketika sesuatu itu ingin diterapkan, tidak hanya cukup ceramah saja agar keinginan tersampaikan, namun juga penerapan pada peraturan khususnya bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.
Penanaman karakter seperti ini layak dijadikan teladan untuk menanamkan berbagai karakter yang baik untuk peserta didik. Menengok keinginan Presiden kita tercinta, yaitu revolusi mental, selayaknya pengaktualisasian konsep itu harus diperjelas dalam bentuk konkret karena konsep seperti itu bagi orang awam masih kabur.
 “Agar tujuan menjadi jelas dan tidak amblas, butuh adanya lelaku yang pantas dalam kehidupan nan lepas”

Umur Anting Pattani



Sumber gambar: http://cdn-2.tstatic.net/surabaya/foto/bank/images/anting_20160726_175727.jpg

Reportase : Mahmud Mushoffa
Mahasiswa Universitas Negeri Malang/tengah mengikuti program KKN-PKL di Thailand
SAYA menemukan sosok bocah perempuan Thailand yang tidak mengenakan anting di telinganya. Dalam bahasa Melayu Pattani, anting disebut sube. Sang bapak, Ustadz Khadafi, saat saya menanyakan hal tersebut, Jumat (15/7/2016), menjelaskan bila anak-anak di Patani baru memakai anting sekitar umur empat atau lima tahun.
Informasi lain diberikan oleh Mbak Nana, mahasiswa Walailak University yang pernah belajar di Universitas Negeri Malang (UM) dalam program In Country dan kebetulan warga Pattani, menyebutkan, dahulu, anak perempuan baru memakai anting ketika sudah berumur sekitar tujuh tahun, namun sekarang usis dua atau tiga tahun mereka sudah memakai sube.
Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, banyak anak-anak perempuan sudah memakai anting dan telinga mereka telah dilubangi atau ditindik semenjak bayi. Hal ini dilakukan agar tidak merasa sakit ketika besar. Namun, melubangi daun telinga setelah bayi lahir ternyata tidak berlaku di Thailand. Mungkin karena merasa kasihan kepada si bayi.
Terlepas dari itu, ternyata tujuan memakai anting untuk anak perempuan dalam tradisi Patani yaitu sebagai rasa syukur atas kelahiranya.
Dalam hal ini tersirat bahwa sosok bayi perempuan adalah sosok yang dirindukan oleh keluarga, sosok yang sangat dihormati. Memang benar jika hal itu terjadi karena mayoritas penduduk di Pattani ini beragama Islam.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah, “ya Rasulallah, kepada siapakah pertama kali saya harus berbakti?”
Jawabnya sama diberikan sampai pertanyaan ketiga dengan pertanyaan yang sama yaitu, ibumu.
Kemudian ia bertanya lagi, jawab Rasulullah baru adalah 'ayahmu'.
Inilah keistimewaan seorang perempuan di mata Islam. Hal ini benar-benar mengakar dalam tradisi Islam di Patani dan sekitarnya yang menjunjung tinggi status sosial seorang perempuan.
Bagi orang yang mampu, ia akan memakaikan anaknya anting yang terbuat dari emas. Bagi anak perempuan yang terlahir dari orangtua yang kurang mampu akan dipakaikan anting yang tidak terbuat dari emas.
Hal ini bukan menjadi masalah karena anting sebagai simbol bahwa  penghormataan dan penghargaan atas lahirnya bayi perempuan di tengah keluarga.


sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2016/07/26/umur-anting-pattani