Jumat, 15 Februari 2013

Kesatuan dalam Organisasi



    Organisasi yang baik di dalamnya terdapat kebersamaan yang baik. Hubungan antar anggota yang harmonis bagaikan keluarga sendiri. Apa jadinya jika dalam organisasi tidak ada yang demikian itu. Dimungkinkan pasti nanti akan terjadi ketidak lancaran dalam melaksanakan program kerja.
     Selayaknya dalam beroragnisasi mempunya unsur-unsur tertentu dalam menciptakan kebersamaan dan harus dijaga oleh setiap individu yang ada di dalamnya:


Selaras bukan sehati

    Kalau kita mengatakan sehati, besar kemungkinan haruslah mempunyai pemikiran yang sama. Namun kalau kita mengatakan selaras maksudnya kita boleh beda pendapat tetapi pendapat itu bertujuan untuk keberhasilan bersama. Dalam sebuah organisasi pasti akan terdapat banyak orang yang memiliki pendapat berbeda. Satu kepala satu ide, seribu kepala seribu ide. Namun jika ingin membuat kelompok kita kuat dan solid, maka selayaknya kepentingan bersama lebih diutamakan dari kepentingan pribadi. Tinggalkan perbedaan dan galang persamaan.

Tidak Egois

    Sudah bukan rahasia lagi jika manusia itu adalah "makhluk egois"
. Apapun yang tidak memiliki nilai tambah buat dirinya, kebanyakan tidak akan ada partisipasi yang dikeluarkan, bahkan dianggap tidak penting. Jika sifat ini ada dalam sebuah organisasi, bisa dipastikan organisasi tersebut hanya punya program tapi tidak ada kegiatan. Tidak ada yang mempelopori, karena semua menganggap apa yang mereka lakukan tidak ada imbal baliknya. Jika ingin memiliki organisasi yang solid, maka kita mulai utk belajar menurunkan Ego demi kepentingan bersama.

Kerendahan hati

    Organisasi akan memiliki anggota yang hegemoni (campuran). Terkadang ada sebagian anggota yang terlibat tidak memiliki keahlian dan pengalaman khusus, modal mereka hanya sekedar kerelaan demi memberikan sumbangsih. Maka selayaknya anggota yang memiliki usia lebih tua, pengalaman lebih matang, keahlian lebih tinggi, kondisi finansial lebih beruntung, untuk menekan rasa sombong dalam diri dan rela bekerja sama (sambil menuntun) dg anggota lainnya.
Kerendahan hati akan menghindarkan kita dari rasa benci, iri hati dan timbulnya kelompok yang terkotak-kotak.

K
erelaan berkorban

    Setiap individu dalam sebuah organisasi, akan memiliki sumbangsih yang bisa berbeda-beda. Ada yang menyumbangkan dana, pikiran, fasilitas, tenaga atau waktu. yang punya finansial lebih menyumbangkan dana utk transportasi dan konsumsi, sementara yang memiliki waktu menyumbangkan tenaga dan waktunya untuk melaksanakan tugas. Perbedaan sumbangsih jangan sampai membuat gesekan negatif yang bisa berdampak pada perpecahan. Jika ingin bekerja bersama-sama, maka siapkan kerelaan untuk mau berkorban dan jangan pernah itung-itungan.

    Jika setiap individu dalam sebuah organisasi memahami dan terus belajar untuk memenuhi 4 unsur diatas, maka lambat laun organisasi yang dikembangkan akan menjadi semakin kuat dan solid di kemudian hari. Kesadaran diri untuk menjadi insan yang lebih baik dan terus bertumbuh, akan sangat membantu proses perubahan diri.

Emosi Positif



Kita harus terlebih dahulu memiliki jumlah yang cukup untuk menjadikan hidup kita positif, sebelum mampu berbagi dengan orang lain.
Jika kita mendengar kata ‘tabungan’, biasanya kita langsung mengasosiasikannya dengan uang. Berpa jumlah uang yang kita simpan di ban, dalam celengan, di bawah bantal, di sela-sela buku, di kolong tempat tidur, atau di tempat-tempat aneh lainnya. Kadang-kadang kita baru ‘menemukan’ uang yang kita ‘tabung’ itu sepuluh tahun kemudian. Itu pun dengan tidak sengaja. Ketika kita hendak memindah lemari buku. Tiba-tiba saja ada dua lembar uang kertas lima puluh ribuan. Setelah kita ingat-ingat, ternyata memang kitalah yang ‘menabung’ uang itu sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana dengan tabungan emosi positif? Waw..... tabungan emosi positif???? Agak jangal ya....., Benar ‘tabungan emosi positif’. Pernahkah Anda menabung emosi positif?
                 Mungkin Anda pernah mendengar tentang teori ‘ember dan gayung’-nya Donald Clifton. Hanya ember yang berisi air saja yang dapat memberi isi gayung air. Ember kosong, tidak mungkin memberi air kepada sang gayung.
                Jika ember itu diumpamakan sebagai diri kita dan air mewaili emosi positif yang  mengisi tubuh kita maka itu berarti “hanya jika diri kita dipenuhi emosi positif saja, kita bisa memberikan energi positif kepada orang lain”. Kita tahu kalau orang-orang yang jiwanya “kering” tidak mungkin bisa memberikan kesejukan kepada orang lain. Jika kita membiarkan diri kita sendiri menjadi kering maka kita tidak akan mampu untuk memberikan energi positif itu kepada orang lain.
                Ngomong-ngomong, akan Anda apakan uang lembaran lima puluh ribuan yang ditemukan di baik lemari itu? Mentraktir teman ? atau mengajak adik makan kerang rebus di warteg pinggir jalan? Atau , barang kali Anda memberikannya kepada petugas kebersihan yang sedang menyapu sampah sisa-sisa tiker bertebaran di pintu gerbang tol. Anda mempunyai begitu banyak pilihan bukan?
                Begitu pula dengan tabungan positif yang Anda miliki. Anda bisa memberikannya kepada orang-orang di sekitar Anda sehingga dengan pemberian energi positif Anda itu, mereka mengisi ‘ember-ember’ jiwa mereka. Oleh karena itu, hidup mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hey lihat, Anda sudah menjadikan hidup sesorang menjadi lebih baik. Ketika Anda memberinya energi positif, mereka menjadi semakin positif juga. Mereka semakin bahagia. Selanjutnya, ketika mereka merasa ember mereka penuh juga, mereka kemudian memberikan energi positif itu kepada orang lain. Lihatlah, ternyata semudah itulah kebaikan menyebar dari satu orang kepada orang lainnya. Lantas ketika penyebaran itu menjadi sebuah wabah maka kebaikan kecil yang Anda tebarkan kepada satu orang bisa menyebar kepada seluruh umat manusia di muka bumi.
                Sebentar dulu, Mestikah ita memberi tabungan emosi positif itu kepada orang lain? Seperti uang yang Anda tabungkan, Anda boleh menggunakannya untuk apa saja. Untuk diri Anda sendiri atau orang lain. It’s your call. Demikian pula halnya dengan emosi positif Anda sendiri agar hari-hari Anda menjadi indah. Bisa pula diberikan kepada orang lain. Agar hari-hari Anda menjadi lebih berarti dan kaya makna. Bedanya, uang tabungan Anda mungkin akan habis esaat setelah Anda menggunakan atau memberikannnya. Sementara emosi posotif akan semakin bertambah ketika Anda memanfaatkannya. Entah Anda memanfaatkan untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Contohnya begini. Sifat penolong adalah salah satu bentuk emosi positif. Ketika Anda menolong orang, sebenarnya Anda sedang memberikan energi positif itu kepada orang lain. Hanya jika pertolongan itu dilakkukan dengan tulus tentu saja. Sebaliknya, ketika mendapat pertolongan Anda, orang itu membalasnya dengan ucapan terima kasih dan senyum yang tulus juga. Anda, ketika melihat senyum itu di wajahnya, merasa begitu bahagia. Kemudian, ketika kebahagiaan itu memasuki relung hati Anda, tabungan emosi positif di dalam ‘ember’ Anda kembali terisi.
Sekarang coba tengok lebih jauh ke dalam hati orang itu. Begitu berterima kasihnya kepada Anda. Dia berjanji di dalam hati, ‘kelak jika dia sudah keluar dari permasalahan ini, dia akan meniru Anda’. Dia akan mencari orang lain yang berada dalam kesulitan serupa, dan dia akan menolong orang itu sebisanya. Lihatlah. Energi dalam ember positif orang itu bertambah.
Setahun kemudian orang itu benar-benar menemukan seseorang yang butuh pertolongan dan dia benar-benar menolongnya. Dia Bahagia. Orang yang ditolongnya juga bahagia, ditambah bonus cira-cita untuk menolong orang lain di kemudian hari.
Anda menyaksikan rentetan peristiwa itu berulang terus-menerus, dari satu orang kepada orang-orang yang lainnya. Seolah-olah kini sebagian besar orang yang Anda temui merupakan bagian dari ‘jaringan’ yang Anda bangun. Begitu banyak orang yang telah tertolong, yang kemudian menjadi sang penolong lainnya. Begitu setersunya, hey lihatlah. Ember positif Anda semakin terisi penuh.
Semua orang baik di muka bumi ini suka memberi. Mereka menyisihkan sebagian uang yang dihasilkannya setiap bulan untuk memberi kepada orang lain. Entah seribu rupiah. Atau sepuluh ribu. Seratus ribu. Satu juta. Berapa saja. Namun mereka’kita semua’hanya bisa  melakukannya jika sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup paling dasar terlebih dahulu. Kita tidak mungkin memberi kepada orang lain jika kebutuhan hidup kita sendiri belum terpenuhi.
Bagaimana jika tabungan emosi positif kita benar-benar sedikit? Bukankah tidak mudah mencari tambahannya? Tidak usah khawatir. Selalu ada cara bagi kita untuk terus-menerus menambah tabungan emosi positif itu. Pertama, kita bisa melakukannya dengan diri sendiri. Mulai dari cara sederhana saja. Misalnya, dengan sekedar memiliki keyakinan bahwa kita dapat mengatasi masalah yang sedang kita hadapi maka tabungan emosi positif kita mulai bertambah sedikit. Jika kita melakukan sebuah tindakan untuk mengatasi masalah kita, tabungan itu bertambah sedikit lagi. Ketika menghadapi rintangan dalam upaya itu, lalu kita kesal, tabungan itu berkurang. Namun, ketika kita katakan, ‘rintangan ini akan menjadikan aku semmaaaaakiiiiiin kuat!!!!!’ maka tabungan emosi positif kita ‘bertambah ’ sangat ‘banyak’. Begitulah seterusnya. Kita bisa mengisi kembali, sebanyak yang kita inginkan.

Rabu, 13 Februari 2013

Manusia Bagaikan Tumbuhan


           Air jernih yang tergenang bagaikan kertas putih yang masih bertumpuk. Itu tak akan keruh jika tidak ada yang mencampur aduk. Ups jadi teringat akan kepribadian orang. Ketika masih kecil orang begitu putih hatinya untuk menerima hal-hal yang baik, dan bermanfaat. Tapi sayang, tidak seterusnya orang merasa itu, ketika udah menginjak usia remaja, banyak sekali godaan yang menghampiri sang remaja yang baru tumbuh. Andaikan saja dalam diri manusia itu ada semacam antivirus yang kuat, mungkin semua orang akan selamat. Namun Allah itu sengaja menciptakan manusia yang demikian itu. Tak lain adalah untuk memberikan hikmah kepada orang lain. Coba kalau semua orang baik semua, pasti akan bigung. Tak ada yang dibuat contoh dalam berdakwah kebaikan.
Pohon yang hijau daunnya lambang kecerahan pikiran tatkala masih muda. Lihat saja daun yang sudah tua, pasti daunnya tidaklah hijau lagi. Sama seperti manusia ketika orang sudah tua maka pikirannya itu bagaikan daun yang sudah tua. Tak sejernih ketika masih muda. Betulkah begitu?. Mungkin saja iya, mungkin saja tidak. Tergantung bagaimana orang memaknainya.
Ketinggian suatu pohon bak ketinggian atau kehormatan sesorang di hadapan orang banyak. Ketika pohon sudah mencapai ketinggian tertentu ataupun ketinggian di atas rata-rata tingginya pohon disekitarnya pasti akan mendapatkan rintangan yang sangat besar yaitu menahan kerasnya angin menerjang pohon itu. Semakin tinggi pohon pasti semakin sulit untuk menahan arus angin yang begitu kuat. Begitu juga dengan manusia, semakin tinggi derajat dan status seseorang, pasti akan semakin banyak godaan yang senantiasa siap menumbangkan seseorang dari kehormatan yang dimilikinya.
Untuk sebelum kita beranjak lebih tinggi lagi, alangkah baiknya untuk membangun pondasi yang lebih kuat demi menahan kuatnya badai ketika kita telah memiliki derajat dan status bagaikan pohon besar yang telah tinggi.

Jumat, 08 Februari 2013

Merenung sejenak akan muda yang polos


Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Yang ada hanya orang yang merasa terlambat dalam belajar. Belajar itu tidak mengenal umur, tidak mengenal waktu, dan tidak mengenal siapa. Siapapun bisa belajar yang ia inginkan. Hanya saja butuh ketekunan dan niat yang baik untuk menjalankan semua itu.
Pernahkan kamu mendengar  perkataan orang lan ketika ditanya tentang belajar Teknologi dan Informasi berkata “ nduk.... lee....., aku iki wes tua, ora iso kayak gitu, kon sinau no wes males...” artinya anakku......, saya ini sudah tua, tidak bisa belajar kayak begituan, sudah males sinau. Inilah penyakit yang sering melanda orag yang sudah banyak umurnya. Ia tidak lagi mempunyai hasrat untuk belajar. Mungkin dikarenakan merasa cukup bisa sehingga menutup diri untuk belajar lebih banyak ilmu pengetahuan lagi.
Padahal jikalau ia mau, masih sangat banya lagi yang harus dipelajari di dunia ini, mengingat perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin cepat dengan hadirnya teknologi yang lebih canggih. Ada orang yang mengatakan salah satu penyebab berkurangnya hasrat belajar ketika umur sudah banyak yaitu memiliki rasa malu untuk lebih banyak tau, karena nanti ada anggapan bahwa “ loh kok gak tau, gimana kok kalah dengan anak yang muda”. Ini yang menjadi penghambat orang untuk belajar. Biasanya ketika kita masih kecil dan polos dengan pedenya kita bertanya pada orang di sekitar kita tanpa berfikir panjang. “ kenapa yah... motor itu isa jalan sendiri?, kenapa pak.... kok ketika kaki tersandung rasanya sakit?” pernah mengalami kayak begitu?
Coba dibandingkan dengan keadaanmu sekarang. Mungkin sebelum kamu bertanya pada seseorang mungkin dipastikan kamu akan lebih banyak mikir dulu sebelum bertanya.” Gimana y... nanti tanggapan dia, trus kalau aku bertnya salah gimana, malu donk...”.
Yuks buat yang masih seperti itu. Cobalah untuk mengembalikan kepolosanmu seperti dulu ketika kamu masih kecil. Kepolosan seseorang itu menandakan bahwa orang itu jujur. Tapi perlu diingat juga, orang yang na,paknya polos belum tentu mempunyai kepolosan yang sesungguhnya. Mengingat sekarang banyak anak yang cerdas dalam berakting layaknya akting di film yang ada di tv.

Sabtu, 02 Februari 2013

Rasa


Apa rasanya ketika anda tidak merasakan kesulitan dalam hidup ini. Mungkin sebagian banyak orang akan mengatahui jikalau mereka sungguh-sungguh menjalani hidup ini sesuai dengan irama kehidupan yang sebenarnya.
Hidup tanpa masalah itu ibarat sebuah makanan tanpa ada rasa manis, asam, dan sebagainya. Justru dengan hadirnya masalah itulah seseorang yang awalnya belum mampu untuk mengatasi itu dituntut untuk bisa. Sehingga mau tidak mau harus mengeluarkan segenap tenaga, menguras otak untuk berfikir lebih banyak dan lebih kompleks lagi. Dan hasilnya? Wah luar biasa. Setelah anda merasakan hal seperti mungkin anda akan berkata “jikalau hal ini tak terjadi padaku, mungkin aku tidak akan hebat seperti ini, tidak bisa berfikir jenius, berfikir lebih kritis, beribicara sana-sini tanpa henti”.
Apa anda sudah mengalami hal yang demikian? Kalaupun belum, cobalah anada untuk memperbanyak pengalaman anda dalam berinteraksi dengan orang lain maupun mengikuti beberapa organisasi yang anda sukai. Kemungkinan besar di ditulah anda akan menemukan sebuah permasalahan yang akan membesarkanmu di masa yang akan datang. Selamat mencoba dan semoga kita semua yang sedang mengalami seperti itu akan membawa kebaikan dan keberuntungan yang akan datang. Amin.

Berpikir Sederhana


Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, "untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?"
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia." Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah... kijang. Ia pun membiarkannya berlalu.
Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa. (http://www.abatasa.com)
Banyak orang yang mempunyai idealisme yang terlalu besar mengharapkan sesuatu yang diinginkan tanpa memperhitungkan kemungkinan kegagalan yang akan terjadi pada dirinya akibat terlalu berfikir tinggi dan terkadang dengan gaya bicara yang sulit dipahami. Kesempatan kecil dilewatkan begitu saja tanpa berfikir panjang. Orang seperti itu akan menelan jamu pahit yang pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Padahal kesempatan sekecil apapun itu, merupakan lagkah awal untuk memperoleh kesempatan yang lebih besar lagi sehingga keinginan yang ingin diraihnya juga akan semakin dekat dengan memanfaatkan kesempatan yang ada terlebih dahulu. Ibarat orang mau melihat seluruh kota di atas menara.
Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.