Kamis, 28 September 2017

Islam Bukan Identitas

Dalam masyarakat awam, Islam sering digunakan sebagai identitas bahwa ia punya Tuhan dan kepercayaan. Islam bukan sebagai sebuah entitas akan dirinya bagian dari kehidupan, tetapi semata-mata hanya sebagai sampul untuk sebuah buku.
Identitas dalam konteks ini yaitu sebagai sebuah pengenal bahwa seseorang yang telah dilekati dengan nama itu setidaknya segala yang ada pada Islam secara langsung dapat melekat pada diri seseorang tersebut. Tidak mengenal apa sesungguh yang terjadi dan fakta di kehidupan masyarakat. Identitas yang seperti yang akan mengeroposkan tiang besar “Islam” itu sendiri meskipun secara umum kadang orang sudah mengerti tentang identitas yang seperti ini.
Identitas sering dikaitakan dengan apa yang disebut sebagai kedalaman materi. Ada dua anggapan tentang identitas. Identitas yang hanya berfungsi sebagai sampul buku tanpa menyelaraskan isinya akan menjadi identitas tanpa bobot yang berarti, artinya identitas tersebut suatu saat akan hilang terbawa angina peradaban. Kedua yaitu identitas yang memperhatikan keselarasan isi. Identitas yang seperti ini merupakan sebuah identitas yang sebenarnya tentang apa yang telah disandang oleh seseorang. Islam sebagai identitas ataupun entitas tergantung isi dari masing-masing individu yang melekatkan hal tersebut pada dirinya dan menginformasikan kepada masyarakat banyak. Sering kita melihat hal ini dengan kaitannya wawasan keislaman yang dihubungkan dengan realisasi dari wawasan tersebut.
Realisasi wawasan keislaman ada kaitannya dengan implementasi terhadap rasa nasionalisme dan kesepahaman dengan budaya yang ada pada masyarakat tertentu. Melihat fenomena masyarakat tentang wawasan keislaman dalam kaitannya dengan nasionalisme dan kebudayaan, seakan sudah terpetakkan dengan sekat yang sangat tebal sehingga terkesan berdiri sendiri. Padahal islam, nasionalisme, dan budaya memiliki unsur yang berkaitan. Hal ini yang membuat masing-masing petak menjadi kaku.

Islam pada Seseorang
            Islam yang sebenarnya adalah sebuah pemahaman dan aturan untuk hidup. Hidup yang berhubungan manusia dan berhubungan dengan Tuhan. Yang berhubungan dengan manusia termasuk di dalamnya adalah bagaimana seseorang bisa menjalin hidup dan berkomunikasi dalam masyarakat dengan baik. Konsep dasar dan tata caranya sudah tertuang dalam pedoman agama Islam. Namun, yang sering terjadi adalah seseorang memandang suatu permasalahan berdasarkan sudut satu sudut pandang saja. Padahal Islam tidak mengajarkan sesseorang untuk memandang suatu masalah dengan satu sudut.
            Secara sederhana bisa dilihat dari adanya empat mazhab dalam islam. Ini menunjukkan bahwa ada banyak cara dan ada banyak jalan menuju sesuatu yang sesuai dengan pedoman agaman Islam. Hanya saja orang memandang jalannya hanya satu “jalan yang lurus”. Lurus dalam konteks ini banyak diartikan secara harfiah oleh banyak orang sehingga bagi yang tidak mengerti hakikat “lurus” akan menanggapi atau melakukan sesuatu secara kaku dan tidak melihat fakta empiris dan sejarah selama ini.

Islam dalam Ruang Lingkup Nasionalisme
            Pada konsep ini, Islam berfungsi sebagai dasar bagaimana hidup berbangsa dan bernegara. Berhubungan dengan hal itu, pemahaman lintas agama dan lintas budaya diperlukan untuk menjadikan satu dan padu dalam hidup berbangsa dan bernegara. Seseorang tidak bisa hidup hanya dengan memandang dan berpedoman kaku pada satu hal karena pada dasarnya hidup berjalan harmonis ketika bisa menyerasikan berbagai hal untuk berjalan tanpa berhimpitan ataupun bertabrakan.
            Fakta menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Namun, fakta ini tidak boleh semena-mena dijadikan sebuah dogma bahwa keputusan tertentu harus sesuai dengan ajaran dan aturan agama Islam. Ini menyangkut hubungan antar sesama manusia. Dalam lingkup sejarah Indonesia, Indonesia merdeka bukan karena semata-mata orang Islam, tetapi semua orang bersatu padu untuk berkumpul dan membuat kesepatakan bersama untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan bangsa lain. Sebagai salah satu buktinya adalah dengan hadirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Itu artinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selayaknya menghargai antar sesama dengan tidak menghadirkan dogma tertentu yang dipengaruhi oleh golongan mayoritas. Nasionalisme akan tumbuh bukan karena keegoisan dari masing-masing golongan, tetapi nasionalisme akan tumbuh dengan hadirnya toleransi, solidaritas, dan rasa kekeluargaan. Bagaimana itu bisa diwujudkan? Salah satu caranya ada pendidikan, bukan sekedar pendidikan tetapi pendidikan berkebangsaan Indonesia. Kalau dalam perspektif islam, bisa dikatan sebagai pendidikan Islam Nusantara.

Islam dalam Ruang Lingkup Budaya
            Islam tumbuh dan berkembang melalui celah budaya. Tidak mungkin Islam diterima tanpa memasuki unsur-unsur budaya dalam sebuah masyarakat karena pada dasarnya masyarakat tumbuh dan hidup teratur karena keterikatan budaya yang berlaku di daerah tersebut. Ketika hal asing memasuki alam pikiran masyarakat tanpa memperhatikan konsep berpikir dan bertingkah masyarakat dengan budaya tertentu, hal asing itu akan langsung dibuang begitu saja. Namun tidak pada Islam, sekarang Islam tumbuh baik. Namun dengan berkembangnya teknologi dan peradaban manusia, terkadang orang melupakan sejarah sehingga seakan memandang hidup dan menerapkan aturan berdasarkan aturan pokok tanpa memperhatikan apa yang disebut sejarah dan hubungan manusia. Ini yang menjadi permasalahan pada saat ini.
            Kebudayaan suatu masyarakat itu terbentuk berdasarkan kebiasaan dan pengalaman yang dirasakan oleh masyarakat itu sendiri. Aturan yang sering banyak disebut sebagai adat merupakan sebuah produk kesepakatan tidak tertulis dari masyarakat yang bertujuan untuk dapat menghindarkan seseorang atau masyarakat tertentu pada malapetaka yang merugikan bagi satu orang ataupun orang banyak. Hadirnya Islam pada masyarakat yaitu membenahi adat, budaya, dan cara berpikir yang kurang benar. Salah satu cara agar masyarakat itu menerima adalah dengan memasukkan unsur-unsur keagamaan dalam setiap sendi budaya yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Dengan perlahan masyarakat akan memahami hakikat Islam yang sebenarnya. Dari sinilah Islam hadir pada budaya tertentu yang mengakibatkan berkembangnya Islam sampai saat ini.
            Islam, nasionalisme, budaya merupakan tiga kunci harmonitas dalam hidup. Ketika “Islam” hanya disimbolkan sebagai sampul buku saja, keharmonisan kehidupan tidak mungkin terbentuk. Semua elemen kehidupan selayaknya menjadi satu, “Islam” sebagai entitas akan kehidupan. Realitas dari Islam bukan identitas, melainkan suatu entitas yaitu manusia sudah mengintegrasikan Islam dalam setiap tindak tutur, pikir, dan hatinya.
            Tindak tutur sederhana sebagai entitas Islam pada diri seseorang yaitu ia bisa memposisikan dengan siapa ia berhadapan dan berbicara. Seseorang selayaknya mempunyai wawasan luas tentang komunikasi dan bahasa untuk bisa masuk dalam tahap memposisikan sesuai dengan situasi dan kondisi sesuai dengan budaya di mana ia berada.
            Cara berpikir yang benar sebagai entitas Islam pada diri seseorang yaitu ketika ia bisa mengintegrasikan keislaman pada setiap aspek dalam kehidupan. Realisasi dari cara berpikir ini yaitu terwujudnya toleransi kesalahan manusia human error karena kelalaiannya karena pada dasarnya ia telah memahami aspek dasar dari kehidupan sampai pada aspek yang komplek hidup, baik aspek berpikir atau aspek bidang keilmuan dalam lingkup multidisipliner ilmu atau transdisipliner keilmuan tertentu.
            Terakhir yaitu hati. Hati ini erat kaitannya dengan perasaan antar sesama manusia dalam kaitannya dengan hubungan secara horizontal. Islam yang sudah menetap dalam hati akan menjadikan orang yang memilikinya itu berada dalam tingkatan yang paling tinggi. Sama seperti pada konsep “Ikhlas”. “Ikhlas”  dalam tataran yang paling tinggi adalah bukan lagi berada di alam pikiran sedikitpun tetapi seseorang sudah tergerak secara otomatis tanpa menggunakan alam pikirannya. Ia tergerak karena kebiasaan baiknya. Begitu juga Islam yang sudah mengakar dalam hati. Ia akan bisa memandang suatu hal dasar Islam secara otomatis, baik sebagai benteng ataupun sebagai pemandu hidup. Dari hal yang sederhana sampai pada yang kompleks.
            Islam sebagai entitas akan diri sebagai bagian dari kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa mendorong seseorang bukan lagi berpikir bagaimana menerapkan Islam tetapi lebih pada bagaimana agama, dia, Tuhan dan segala ciptaannya mengakar kuat dan berjalan di alam bawah sadar manusia.


NB: tulisan ini diikutsertakan dalam tunamen penulisan esai se jawa timur