Dalam masyarakat awam, Islam
sering digunakan sebagai identitas bahwa ia punya Tuhan dan kepercayaan. Islam
bukan sebagai sebuah entitas akan dirinya bagian dari kehidupan, tetapi
semata-mata hanya sebagai sampul untuk sebuah buku.
Identitas dalam konteks
ini yaitu sebagai sebuah pengenal bahwa seseorang yang telah dilekati dengan
nama itu setidaknya segala yang ada pada Islam secara langsung dapat melekat
pada diri seseorang tersebut. Tidak mengenal apa sesungguh yang terjadi dan
fakta di kehidupan masyarakat. Identitas yang seperti yang akan mengeroposkan
tiang besar “Islam” itu sendiri meskipun secara umum kadang orang sudah
mengerti tentang identitas yang seperti ini.
Identitas sering
dikaitakan dengan apa yang disebut sebagai kedalaman materi. Ada dua anggapan
tentang identitas. Identitas yang hanya berfungsi sebagai sampul buku tanpa
menyelaraskan isinya akan menjadi identitas tanpa bobot yang berarti, artinya
identitas tersebut suatu saat akan hilang terbawa angina peradaban. Kedua yaitu
identitas yang memperhatikan keselarasan isi. Identitas yang seperti ini
merupakan sebuah identitas yang sebenarnya tentang apa yang telah disandang
oleh seseorang. Islam sebagai identitas ataupun entitas tergantung isi dari masing-masing
individu yang melekatkan hal tersebut pada dirinya dan menginformasikan kepada
masyarakat banyak. Sering kita melihat hal ini dengan kaitannya wawasan
keislaman yang dihubungkan dengan realisasi dari wawasan tersebut.
Realisasi wawasan keislaman
ada kaitannya
dengan implementasi terhadap rasa nasionalisme dan kesepahaman dengan budaya
yang ada pada masyarakat tertentu. Melihat fenomena masyarakat tentang wawasan
keislaman dalam kaitannya dengan nasionalisme dan kebudayaan, seakan sudah
terpetakkan dengan sekat yang sangat tebal sehingga terkesan berdiri sendiri.
Padahal islam, nasionalisme, dan budaya memiliki unsur yang berkaitan. Hal ini
yang membuat masing-masing petak menjadi kaku.
Islam
pada Seseorang
Islam
yang sebenarnya adalah sebuah pemahaman dan aturan untuk hidup. Hidup yang
berhubungan manusia dan berhubungan dengan Tuhan. Yang berhubungan dengan
manusia termasuk di dalamnya adalah bagaimana seseorang bisa menjalin hidup dan
berkomunikasi dalam masyarakat dengan baik. Konsep dasar dan tata caranya sudah
tertuang dalam pedoman agama Islam. Namun, yang sering terjadi adalah seseorang
memandang suatu permasalahan berdasarkan sudut satu sudut pandang saja. Padahal
Islam tidak mengajarkan sesseorang untuk memandang suatu masalah dengan satu
sudut.
Secara
sederhana bisa dilihat dari adanya empat mazhab dalam islam. Ini menunjukkan
bahwa ada banyak cara dan ada banyak jalan menuju sesuatu yang sesuai dengan
pedoman agaman Islam. Hanya saja orang memandang jalannya hanya satu “jalan
yang lurus”. Lurus dalam konteks ini banyak diartikan secara harfiah oleh
banyak orang sehingga bagi yang tidak mengerti hakikat “lurus” akan menanggapi
atau melakukan sesuatu secara kaku dan tidak melihat fakta empiris dan sejarah
selama ini.
Islam
dalam Ruang Lingkup Nasionalisme
Pada
konsep ini, Islam berfungsi sebagai dasar bagaimana hidup berbangsa dan
bernegara. Berhubungan dengan hal itu, pemahaman lintas agama dan lintas budaya
diperlukan untuk menjadikan satu dan padu dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Seseorang tidak bisa hidup hanya dengan memandang dan berpedoman kaku pada satu
hal karena pada dasarnya hidup berjalan harmonis ketika bisa menyerasikan
berbagai hal untuk berjalan tanpa berhimpitan ataupun bertabrakan.
Fakta
menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Namun, fakta ini
tidak boleh semena-mena dijadikan sebuah dogma bahwa keputusan tertentu harus
sesuai dengan ajaran dan aturan agama Islam. Ini menyangkut hubungan antar sesama
manusia. Dalam lingkup sejarah Indonesia, Indonesia merdeka bukan karena
semata-mata orang Islam, tetapi semua orang bersatu padu untuk berkumpul dan
membuat kesepatakan bersama untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan bangsa
lain. Sebagai salah satu buktinya adalah dengan hadirnya Pancasila sebagai
dasar negara Indonesia. Itu artinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
selayaknya menghargai antar sesama dengan tidak menghadirkan dogma tertentu
yang dipengaruhi oleh golongan mayoritas. Nasionalisme akan tumbuh bukan karena
keegoisan dari masing-masing golongan, tetapi nasionalisme akan tumbuh dengan
hadirnya toleransi, solidaritas, dan rasa kekeluargaan. Bagaimana itu bisa
diwujudkan? Salah satu caranya ada pendidikan, bukan sekedar pendidikan tetapi
pendidikan berkebangsaan Indonesia. Kalau dalam perspektif islam, bisa dikatan
sebagai pendidikan Islam Nusantara.
Islam
dalam Ruang Lingkup Budaya
Islam
tumbuh dan berkembang melalui celah budaya. Tidak mungkin Islam diterima tanpa
memasuki unsur-unsur budaya dalam sebuah masyarakat karena pada dasarnya
masyarakat tumbuh dan hidup teratur karena keterikatan budaya yang berlaku di
daerah tersebut. Ketika hal asing memasuki alam pikiran masyarakat tanpa
memperhatikan konsep berpikir dan bertingkah masyarakat dengan budaya tertentu,
hal asing itu akan langsung dibuang begitu saja. Namun tidak pada Islam,
sekarang Islam tumbuh baik. Namun dengan berkembangnya teknologi dan peradaban
manusia, terkadang orang melupakan sejarah sehingga seakan memandang hidup dan
menerapkan aturan berdasarkan aturan pokok tanpa memperhatikan apa yang disebut
sejarah dan hubungan manusia. Ini yang menjadi permasalahan pada saat ini.
Kebudayaan
suatu masyarakat itu terbentuk berdasarkan kebiasaan dan pengalaman yang
dirasakan oleh masyarakat itu sendiri. Aturan yang sering banyak disebut
sebagai adat merupakan sebuah produk kesepakatan tidak tertulis dari masyarakat
yang bertujuan untuk dapat menghindarkan seseorang atau masyarakat tertentu
pada malapetaka yang merugikan bagi satu orang ataupun orang banyak. Hadirnya
Islam pada masyarakat yaitu membenahi adat, budaya, dan cara berpikir yang
kurang benar. Salah satu cara agar masyarakat itu menerima adalah dengan
memasukkan unsur-unsur keagamaan dalam setiap sendi budaya yang ada di dalam
masyarakat itu sendiri. Dengan perlahan masyarakat akan memahami hakikat Islam
yang sebenarnya. Dari sinilah Islam hadir pada budaya tertentu yang
mengakibatkan berkembangnya Islam sampai saat ini.
Islam,
nasionalisme, budaya merupakan tiga kunci harmonitas dalam hidup. Ketika
“Islam” hanya disimbolkan sebagai sampul buku saja, keharmonisan kehidupan
tidak mungkin terbentuk. Semua elemen kehidupan selayaknya menjadi satu,
“Islam” sebagai entitas akan kehidupan. Realitas dari Islam bukan identitas, melainkan suatu entitas yaitu manusia sudah
mengintegrasikan Islam dalam setiap tindak tutur, pikir, dan hatinya.
Tindak
tutur sederhana sebagai entitas Islam pada diri seseorang yaitu ia bisa
memposisikan dengan siapa ia berhadapan dan berbicara. Seseorang selayaknya
mempunyai wawasan luas tentang komunikasi dan bahasa untuk bisa masuk dalam
tahap memposisikan sesuai dengan situasi dan kondisi sesuai dengan budaya di
mana ia berada.
Cara
berpikir yang benar sebagai entitas Islam pada diri seseorang yaitu ketika ia
bisa mengintegrasikan keislaman pada setiap aspek dalam kehidupan. Realisasi
dari cara berpikir ini yaitu terwujudnya toleransi kesalahan manusia human error karena kelalaiannya karena
pada dasarnya ia telah memahami aspek dasar dari kehidupan sampai pada aspek
yang komplek hidup, baik aspek berpikir atau aspek bidang keilmuan dalam
lingkup multidisipliner ilmu atau transdisipliner keilmuan tertentu.
Terakhir
yaitu hati. Hati ini erat kaitannya dengan perasaan antar sesama manusia dalam
kaitannya dengan hubungan secara horizontal. Islam yang sudah menetap dalam
hati akan menjadikan orang yang memilikinya itu berada dalam tingkatan yang
paling tinggi. Sama seperti pada konsep “Ikhlas”. “Ikhlas” dalam tataran yang paling tinggi adalah bukan
lagi berada di alam pikiran sedikitpun tetapi seseorang sudah tergerak secara
otomatis tanpa menggunakan alam pikirannya. Ia tergerak karena kebiasaan
baiknya. Begitu juga Islam yang sudah mengakar dalam hati. Ia akan bisa
memandang suatu hal dasar Islam secara otomatis, baik sebagai benteng ataupun
sebagai pemandu hidup. Dari hal yang sederhana sampai pada yang kompleks.
Islam
sebagai entitas akan diri sebagai bagian dari kehidupan yang diciptakan oleh
Tuhan Yang Maha Esa mendorong seseorang bukan lagi berpikir bagaimana
menerapkan Islam tetapi lebih pada bagaimana agama, dia, Tuhan dan segala
ciptaannya mengakar kuat dan berjalan di alam bawah sadar manusia.
NB: tulisan ini diikutsertakan dalam tunamen penulisan esai se jawa timur