DARI tepung, kita bisa belajar kearifan
hidup. Tepung dijadikan media dalam permainan kelompok dalam acara pendidikan
dan latihan lapangan Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang,
Minggu (23/03/2014) di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP) Malang.
Memainkan permainan ini dibutuhkan tim
terdiri kurang lebih sepuluh orang, tepung satu kilogram, timba untuk menampung
terigu yang diberikan secara estafet dari orang paling depan. Orang paling
depan mengambil segenggam tepung di depannya kemudian memberikan ke teman di
belakangnya tanpa melihatnya. Maksudnya tepung dalam genggamannya diteruskan
melalui atas kepala ke teman di belakangnya. Begitu seterusnya sampai tepung ke
teman yang paling belakang.
Makna dari permainan ini adalah ketika
menuliskan sesuatu, selayaknya pesan tulisan tersebut sampai kepada pembaca
sesuai harapan si penulis. Jika pesan berubah begitu sampai ke orang
berikutnya, berarti pesan tidak diterima dengan baik. Ibarat segenggam tepung
yang diberikan dari orang pertama kepada orang berikutnya hingga orang
terakhir. Jika tepung itu berkurang sampai orang terakhir, berarti ada
kegagalan dalam proses penyampaian informasi.
Kedua, tepung ibarat tulisan yang harus
melalui proses seleksi dan perbaikan. Ketika tepung dari orang pertama sampai
ke tangan orang terakhir itu semakin banyak berkurang, berarti tulisan tersebut
kurang padat dan butuh perbaikan. Namun ketika tepung dari tangan orang pertama
sampai ke tangan orang terakhir hanya berkurang sedikit, bisa diartikan tulisan
tersebut sudah padat sehingga tak perlu memangkas hal yang kurang penting.
Permainan ini mengajarkan kepada calon
penulis yang akan terjun ke lapangan agar senantiasa membantu satu sama lain
untuk mewujudkan tulisan yang berkualitas dan mengajarkan kehati-hatian dalam
menuliskan sesuatuyang nantinya akan dibaca orang banyak.
Sumber:
http://surabaya.tribunnews.com/2014/04/10/belajar-dari-tepung-terigu