Rabu, 17 Desember 2014

Belajar dari Tepung Terigu

DARI tepung, kita bisa belajar kearifan hidup. Tepung dijadikan media dalam permainan kelompok dalam acara pendidikan dan latihan lapangan Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang, Minggu (23/03/2014) di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP) Malang.
Memainkan permainan ini dibutuhkan tim terdiri kurang lebih sepuluh orang, tepung satu kilogram, timba untuk menampung terigu yang diberikan secara estafet dari orang paling depan. Orang paling depan mengambil segenggam tepung di depannya kemudian memberikan ke teman di belakangnya tanpa melihatnya. Maksudnya tepung dalam genggamannya diteruskan melalui atas kepala ke teman di belakangnya. Begitu seterusnya sampai tepung ke teman yang paling belakang.
Makna dari permainan ini adalah ketika menuliskan sesuatu, selayaknya pesan tulisan tersebut sampai kepada pembaca sesuai harapan si penulis. Jika pesan berubah begitu sampai ke orang berikutnya, berarti pesan tidak diterima dengan baik. Ibarat segenggam tepung yang diberikan dari orang pertama kepada orang berikutnya hingga orang terakhir. Jika tepung itu berkurang sampai orang terakhir, berarti ada kegagalan dalam proses penyampaian informasi.
Kedua, tepung ibarat tulisan yang harus melalui proses seleksi dan perbaikan. Ketika tepung dari orang pertama sampai ke tangan orang terakhir itu semakin banyak berkurang, berarti tulisan tersebut kurang padat dan butuh perbaikan. Namun ketika tepung dari tangan orang pertama sampai ke tangan orang terakhir hanya berkurang sedikit, bisa diartikan tulisan tersebut sudah padat sehingga tak perlu memangkas hal yang kurang penting.
Permainan ini mengajarkan kepada calon penulis yang akan terjun ke lapangan agar senantiasa membantu satu sama lain untuk mewujudkan tulisan yang berkualitas dan mengajarkan kehati-hatian dalam menuliskan sesuatuyang nantinya akan dibaca orang banyak.
Sumber:
http://surabaya.tribunnews.com/2014/04/10/belajar-dari-tepung-terigu