Sumber gambar: http://cdn-2.tstatic.net/surabaya/foto/bank/images/anting_20160726_175727.jpg
Reportase : Mahmud Mushoffa
Mahasiswa Universitas Negeri Malang/tengah mengikuti program KKN-PKL di Thailand
Mahasiswa Universitas Negeri Malang/tengah mengikuti program KKN-PKL di Thailand
SAYA menemukan sosok bocah perempuan Thailand yang tidak mengenakan anting di telinganya. Dalam bahasa Melayu Pattani, anting disebut sube.
Sang bapak, Ustadz Khadafi, saat saya menanyakan hal tersebut, Jumat
(15/7/2016), menjelaskan bila anak-anak di Patani baru memakai anting sekitar umur empat atau lima tahun.
Informasi lain diberikan oleh Mbak Nana,
mahasiswa Walailak University yang pernah belajar di Universitas Negeri
Malang (UM) dalam program In Country dan kebetulan warga Pattani, menyebutkan, dahulu, anak perempuan baru memakai anting ketika sudah berumur sekitar tujuh tahun, namun sekarang usis dua atau tiga tahun mereka sudah memakai sube.
Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, banyak anak-anak perempuan sudah memakai anting dan telinga mereka telah dilubangi atau ditindik
semenjak bayi. Hal ini dilakukan agar tidak merasa sakit ketika besar.
Namun, melubangi daun telinga setelah bayi lahir ternyata tidak berlaku
di Thailand. Mungkin karena merasa kasihan kepada si bayi.
Terlepas dari itu, ternyata tujuan memakai anting untuk anak perempuan dalam tradisi Patani yaitu sebagai rasa syukur atas kelahiranya.
Dalam hal ini tersirat bahwa sosok bayi
perempuan adalah sosok yang dirindukan oleh keluarga, sosok yang sangat
dihormati. Memang benar jika hal itu terjadi karena mayoritas penduduk
di Pattani ini beragama Islam.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim, dijelaskan bahwa ada seorang yang bertanya kepada
Rasulullah, “ya Rasulallah, kepada siapakah pertama kali saya harus
berbakti?”
Jawabnya sama diberikan sampai pertanyaan ketiga dengan pertanyaan yang sama yaitu, ibumu.
Kemudian ia bertanya lagi, jawab Rasulullah baru adalah 'ayahmu'.
Inilah keistimewaan seorang perempuan di
mata Islam. Hal ini benar-benar mengakar dalam tradisi Islam di Patani
dan sekitarnya yang menjunjung tinggi status sosial seorang perempuan.
Bagi orang yang mampu, ia akan memakaikan anaknya anting yang terbuat dari emas. Bagi anak perempuan yang terlahir dari orangtua yang kurang mampu akan dipakaikan anting yang tidak terbuat dari emas.
Hal ini bukan menjadi masalah karena anting sebagai simbol bahwa penghormataan dan penghargaan atas lahirnya bayi perempuan di tengah keluarga.
