Air jernih yang tergenang
bagaikan kertas putih yang masih bertumpuk. Itu tak akan keruh jika tidak ada
yang mencampur aduk. Ups jadi teringat akan kepribadian orang. Ketika masih
kecil orang begitu putih hatinya untuk menerima hal-hal yang baik, dan bermanfaat.
Tapi sayang, tidak seterusnya orang merasa itu, ketika udah menginjak usia
remaja, banyak sekali godaan yang menghampiri sang remaja yang baru tumbuh.
Andaikan saja dalam diri manusia itu ada semacam antivirus yang kuat, mungkin
semua orang akan selamat. Namun Allah itu sengaja menciptakan manusia yang
demikian itu. Tak lain adalah untuk memberikan hikmah kepada orang lain. Coba
kalau semua orang baik semua, pasti akan bigung. Tak ada yang dibuat contoh
dalam berdakwah kebaikan.
Pohon yang
hijau daunnya lambang kecerahan pikiran tatkala masih muda. Lihat saja daun
yang sudah tua, pasti daunnya tidaklah hijau lagi. Sama seperti manusia ketika
orang sudah tua maka pikirannya itu bagaikan daun yang sudah tua. Tak sejernih ketika
masih muda. Betulkah begitu?. Mungkin saja iya, mungkin saja tidak. Tergantung
bagaimana orang memaknainya.
Ketinggian
suatu pohon bak ketinggian atau kehormatan sesorang di hadapan orang banyak.
Ketika pohon sudah mencapai ketinggian tertentu ataupun ketinggian di atas
rata-rata tingginya pohon disekitarnya pasti akan mendapatkan rintangan yang
sangat besar yaitu menahan kerasnya angin menerjang pohon itu. Semakin tinggi
pohon pasti semakin sulit untuk menahan arus angin yang begitu kuat. Begitu
juga dengan manusia, semakin tinggi derajat dan status seseorang, pasti akan
semakin banyak godaan yang senantiasa siap menumbangkan seseorang dari
kehormatan yang dimilikinya.
Untuk sebelum
kita beranjak lebih tinggi lagi, alangkah baiknya untuk membangun pondasi yang
lebih kuat demi menahan kuatnya badai ketika kita telah memiliki derajat dan
status bagaikan pohon besar yang telah tinggi.

0 komentar:
Posting Komentar