Rabu, 13 Februari 2013

Manusia Bagaikan Tumbuhan


           Air jernih yang tergenang bagaikan kertas putih yang masih bertumpuk. Itu tak akan keruh jika tidak ada yang mencampur aduk. Ups jadi teringat akan kepribadian orang. Ketika masih kecil orang begitu putih hatinya untuk menerima hal-hal yang baik, dan bermanfaat. Tapi sayang, tidak seterusnya orang merasa itu, ketika udah menginjak usia remaja, banyak sekali godaan yang menghampiri sang remaja yang baru tumbuh. Andaikan saja dalam diri manusia itu ada semacam antivirus yang kuat, mungkin semua orang akan selamat. Namun Allah itu sengaja menciptakan manusia yang demikian itu. Tak lain adalah untuk memberikan hikmah kepada orang lain. Coba kalau semua orang baik semua, pasti akan bigung. Tak ada yang dibuat contoh dalam berdakwah kebaikan.
Pohon yang hijau daunnya lambang kecerahan pikiran tatkala masih muda. Lihat saja daun yang sudah tua, pasti daunnya tidaklah hijau lagi. Sama seperti manusia ketika orang sudah tua maka pikirannya itu bagaikan daun yang sudah tua. Tak sejernih ketika masih muda. Betulkah begitu?. Mungkin saja iya, mungkin saja tidak. Tergantung bagaimana orang memaknainya.
Ketinggian suatu pohon bak ketinggian atau kehormatan sesorang di hadapan orang banyak. Ketika pohon sudah mencapai ketinggian tertentu ataupun ketinggian di atas rata-rata tingginya pohon disekitarnya pasti akan mendapatkan rintangan yang sangat besar yaitu menahan kerasnya angin menerjang pohon itu. Semakin tinggi pohon pasti semakin sulit untuk menahan arus angin yang begitu kuat. Begitu juga dengan manusia, semakin tinggi derajat dan status seseorang, pasti akan semakin banyak godaan yang senantiasa siap menumbangkan seseorang dari kehormatan yang dimilikinya.
Untuk sebelum kita beranjak lebih tinggi lagi, alangkah baiknya untuk membangun pondasi yang lebih kuat demi menahan kuatnya badai ketika kita telah memiliki derajat dan status bagaikan pohon besar yang telah tinggi.

0 komentar: