Kita
harus terlebih dahulu memiliki jumlah yang cukup untuk menjadikan hidup kita
positif, sebelum mampu berbagi dengan orang lain.
Jika
kita mendengar kata ‘tabungan’, biasanya kita langsung mengasosiasikannya
dengan uang. Berpa jumlah uang yang kita simpan di ban, dalam celengan, di
bawah bantal, di sela-sela buku, di kolong tempat tidur, atau di tempat-tempat
aneh lainnya. Kadang-kadang kita baru ‘menemukan’ uang yang kita ‘tabung’ itu
sepuluh tahun kemudian. Itu pun dengan tidak sengaja. Ketika kita hendak
memindah lemari buku. Tiba-tiba saja ada dua lembar uang kertas lima puluh
ribuan. Setelah kita ingat-ingat, ternyata memang kitalah yang ‘menabung’ uang
itu sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana dengan tabungan emosi positif? Waw.....
tabungan emosi positif???? Agak jangal ya....., Benar ‘tabungan emosi positif’.
Pernahkah Anda menabung emosi positif?
Mungkin Anda pernah mendengar tentang teori
‘ember dan gayung’-nya Donald Clifton. Hanya ember yang berisi air saja yang
dapat memberi isi gayung air. Ember kosong, tidak mungkin memberi air kepada
sang gayung.
Jika ember itu diumpamakan
sebagai diri kita dan air mewaili emosi positif yang mengisi tubuh kita maka itu berarti “hanya
jika diri kita dipenuhi emosi positif saja, kita bisa memberikan energi positif
kepada orang lain”. Kita tahu kalau orang-orang yang jiwanya “kering” tidak
mungkin bisa memberikan kesejukan kepada orang lain. Jika kita membiarkan diri
kita sendiri menjadi kering maka kita tidak akan mampu untuk memberikan energi
positif itu kepada orang lain.
Ngomong-ngomong, akan Anda
apakan uang lembaran lima puluh ribuan yang ditemukan di baik lemari itu?
Mentraktir teman ? atau mengajak adik makan kerang rebus di warteg pinggir
jalan? Atau , barang kali Anda memberikannya kepada petugas kebersihan yang
sedang menyapu sampah sisa-sisa tiker bertebaran di pintu gerbang tol. Anda
mempunyai begitu banyak pilihan bukan?
Begitu pula dengan tabungan
positif yang Anda miliki. Anda bisa memberikannya kepada orang-orang di sekitar
Anda sehingga dengan pemberian energi positif Anda itu, mereka mengisi
‘ember-ember’ jiwa mereka. Oleh karena itu, hidup mereka menjadi lebih baik
dari sebelumnya. Hey lihat, Anda sudah menjadikan hidup sesorang menjadi lebih
baik. Ketika Anda memberinya energi positif, mereka menjadi semakin positif
juga. Mereka semakin bahagia. Selanjutnya, ketika mereka merasa ember mereka
penuh juga, mereka kemudian memberikan energi positif itu kepada orang lain.
Lihatlah, ternyata semudah itulah kebaikan menyebar dari satu orang kepada
orang lainnya. Lantas ketika penyebaran itu menjadi sebuah wabah maka kebaikan
kecil yang Anda tebarkan kepada satu orang bisa menyebar kepada seluruh umat
manusia di muka bumi.
Sebentar dulu, Mestikah ita
memberi tabungan emosi positif itu kepada orang lain? Seperti uang yang Anda
tabungkan, Anda boleh menggunakannya untuk apa saja. Untuk diri Anda sendiri
atau orang lain. It’s your call. Demikian pula halnya dengan emosi positif Anda
sendiri agar hari-hari Anda menjadi indah. Bisa pula diberikan kepada orang
lain. Agar hari-hari Anda menjadi lebih berarti dan kaya makna. Bedanya, uang
tabungan Anda mungkin akan habis esaat setelah Anda menggunakan atau
memberikannnya. Sementara emosi posotif akan semakin bertambah ketika Anda
memanfaatkannya. Entah Anda memanfaatkan untuk diri sendiri maupun untuk orang
lain. Contohnya begini. Sifat penolong adalah salah satu bentuk emosi positif.
Ketika Anda menolong orang, sebenarnya Anda sedang memberikan energi positif
itu kepada orang lain. Hanya jika pertolongan itu dilakkukan dengan tulus tentu
saja. Sebaliknya, ketika mendapat pertolongan Anda, orang itu membalasnya
dengan ucapan terima kasih dan senyum yang tulus juga. Anda, ketika melihat
senyum itu di wajahnya, merasa begitu bahagia. Kemudian, ketika kebahagiaan itu
memasuki relung hati Anda, tabungan emosi positif di dalam ‘ember’ Anda kembali
terisi.
Sekarang
coba tengok lebih jauh ke dalam hati orang itu. Begitu berterima kasihnya
kepada Anda. Dia berjanji di dalam hati, ‘kelak jika dia sudah keluar dari permasalahan
ini, dia akan meniru Anda’. Dia akan mencari orang lain yang berada dalam
kesulitan serupa, dan dia akan menolong orang itu sebisanya. Lihatlah. Energi
dalam ember positif orang itu bertambah.
Setahun
kemudian orang itu benar-benar menemukan seseorang yang butuh pertolongan dan
dia benar-benar menolongnya. Dia Bahagia. Orang yang ditolongnya juga bahagia,
ditambah bonus cira-cita untuk menolong orang lain di kemudian hari.
Anda
menyaksikan rentetan peristiwa itu berulang terus-menerus, dari satu orang
kepada orang-orang yang lainnya. Seolah-olah kini sebagian besar orang yang
Anda temui merupakan bagian dari ‘jaringan’ yang Anda bangun. Begitu banyak
orang yang telah tertolong, yang kemudian menjadi sang penolong lainnya. Begitu
setersunya, hey lihatlah. Ember positif Anda semakin terisi penuh.
Semua
orang baik di muka bumi ini suka memberi. Mereka menyisihkan sebagian uang yang
dihasilkannya setiap bulan untuk memberi kepada orang lain. Entah seribu
rupiah. Atau sepuluh ribu. Seratus ribu. Satu juta. Berapa saja. Namun
mereka’kita semua’hanya bisa
melakukannya jika sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup paling dasar
terlebih dahulu. Kita tidak mungkin memberi kepada orang lain jika kebutuhan
hidup kita sendiri belum terpenuhi.
Bagaimana
jika tabungan emosi positif kita benar-benar sedikit? Bukankah tidak mudah
mencari tambahannya? Tidak usah khawatir. Selalu ada cara bagi kita untuk
terus-menerus menambah tabungan emosi positif itu. Pertama, kita bisa
melakukannya dengan diri sendiri. Mulai dari cara sederhana saja. Misalnya,
dengan sekedar memiliki keyakinan bahwa kita dapat mengatasi masalah yang
sedang kita hadapi maka tabungan emosi positif kita mulai bertambah sedikit.
Jika kita melakukan sebuah tindakan untuk mengatasi masalah kita, tabungan itu
bertambah sedikit lagi. Ketika menghadapi rintangan dalam upaya itu, lalu kita
kesal, tabungan itu berkurang. Namun, ketika kita katakan, ‘rintangan ini akan
menjadikan aku semmaaaaakiiiiiin kuat!!!!!’ maka tabungan emosi positif kita
‘bertambah ’ sangat ‘banyak’. Begitulah seterusnya. Kita bisa mengisi kembali,
sebanyak yang kita inginkan.

0 komentar:
Posting Komentar